Berdasarkan hasil transformasi wavelet frekuensi siklon tropis memperlihatkan dominasi sinyal berperioda 12 bulanan (Annual Oscilation) dan dapat diartikan sebagai fenomena berkaitan dengan monsun (Gambar 1). Musim siklon tropis di perairan selatan Indonesia bertepatan dengan monsun barat atau ketika musim panas di belahan bumi bagian selatan (BBS). Sedangkan musim jarang terjadi siklon tropis bertepatan dengan monsun timur atau ketika musim dingin di BBS.
Gambar 1. Transformasi wavelet frekuensi siklon tropis di Perairan Selatan Indonesia periode 1985-2008.
Perioditas musiman siklon tropis sesuai dengan perioditas monsun barat atau bertepatan dengan pemanasan maksimum matahari di BBS. Intensitas panas matahari ketika musim siklon tropis merupakan energi utama untuk penguapan dan sumber fluks panas di laut. Fluks panas dari pancaran panas matahari berguna untuk menghangatkan suhu permukaan laut (SPL) dan menciptakan area bertekanan rendah diatasnya. Menghangatnya SPL dan terbentuknya tekanan rendah, mengakibatkan tingkat evaporasi atau penguapan ke atmosfer semakin intensif sehingga memicu terbentuknya kumpulan awan-awan konvektif kuat sebagai bibit permulaan badai atau dikenal sebagai depresi tropis. Adanya depresi tropis tersebut mengakibatkan konvergensi arah angin menuju area depresi tropis dan pergerakan depresi tropis tersebut berpotensi membentuk suatu pusaran akibat gaya coriolis yang disebut siklon tropis.
Pada saat musim panas di BBS juga terjadi penurunan kecepatan angin pasat tenggara di sekitar perairan Selatan Indonesia hingga lepas pantai Sumatra (Gambar 2). Kecepatan angin rendah (low wind shear) di sekitar area depresi tropis mendukung pembentukan pusaran siklon, karena kecepatan angin yang tinggi dapat mengacaukan pembentukan siklon tropis tahap lanjut. Intensitas panas matahari sangat mendukung faktor-faktor lingkungan dalam pembentukan depresi tropis hingga siklon tropis, seperti SPL hangat, daerah bertekanan rendah, tingkat evaporasi, kelembaban udara hingga kecepatan dan arah angin. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan siklon tropis umum terjadi di perairan Selatan Indonesia ketika posisi matahari condong di BBS dibanding pada bulan Mei hingga Juli ketika posisi matahari condong di belahan Bumi utara (BBU).
Gambar 2. Pola rata-rata kecepatan angin pasat tenggara bulanan di atas perairan Selatan Indonesia hingga perairan Barat Sumatra periode 1977-2007 pada ketinggian hingga 1000 mb (Sumber : ECMWF Data).